Agar “Emas Cair” Tetap Mengalir Jauh Bagian 2

Apa Saja PR kita?

Dengan berbagai tantangan itu, Indonesia, kata Joko, harus menyelesaikan berbagai masalah di dalam negeri. Pertama adalah produktivitas yang masih rendah. “Persoalan data di sawit ada juga. Ka lau dengan data Ditjenbun 14 juta ha, produktivitas kita 3,3 ton CPO/ha/tahun atau 16 ton TBS/ha/tahun. Ini termasuk rendah. Apalagi kalau pakai data 16 juta ha, lebih rendah lagi 2,9 ton CPO atau 14 ton TBS/ ha/tahun,” pa – parnya. Memang, Indonesia sudah pe duli dengan produktivitas yang rendah sehingga ada program peremajaan untuk kebun rakyat. Namun sa yang, realisasi – nya masih jauh dari yang diharapkan.

Selain itu, dia juga menyoroti biaya produksi yang cen – derung naik terus. “Kita lihat perusahaan-perusahaan Malaysia relatif lebih efisien dari segi pro duction cost-nya. Perusahaan In – donesia yang terefisien masih kalah dari perusaha an Malaysia yang pa ling tidak efisien.Production costini pen ting (dite – kan, Red.) karena di sinilah per usahaan mampu mencetak profit,” ujarnya. Membengkaknya biaya itu minimal dari kenaikan tenaga kerja. Setiap tahun Upah Minimum Provinsi (UMP) naik sekitar 10%. Sementara produktivitas dan harga tidak naik signifikan. Berdasarkan analisisnya, “Dalam10 tahun cost akan naik dua kali lipat.

Kalau kita pakai baseline 2017, de ngan harga Rp7.000/kg, maka 10 ta hun mendatang yield minyak harus 6,9 ton/ha/tahun dari yang sekarang 4 ton/ha/tahun. Kalau itu tidak terca pai, maka indus tri itu akan rugi. Ini ancaman atau cha lle – nge yang harus kita hadapi secara serius,” tandasnya. Dalam hal ini, teknologi digital bisa menjadi salah satu sarana untuk meningkatkan efisiensi operasional. Sebenarnya, problem fundamental pemerintah dan pelaku usaha adalah peningkatan produktivitas dan daya saing industri. Selain itu kita harus secara lebih detil diversifikasi produk dan pasar menggunakan matriks dengan prioritas ke negara yang volu – menya besar tapi kesulitannya lebih rendah. “Kon – sekuensi dari produksi dan ekspor yang akan me – ningkat adalah harus perang memenangkan pasar baik melalui campaign maupun penguatan perda – gangan,” tuntas Joko. Dengan peningkatan produktivitas dan efisiensi, serta pemilihan pasar yang tepat, niscaya “emas cair” tetap akan mengalir ke pasar yang selalu tumbuh.