Agar “Emas Cair” Tetap Mengalir Jauh

Agar “Emas Cair” Tetap Mengalir Jauh – Primadona ini tak kalis dari pengaruh tren penurunan harga komoditas di pasar interna sio nal yang terjadi tahun lalu. Dalam refleksinya, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) memaparkan, sepanjang 2018 harga minyak sawit (CPO) rata-rata mengalami koreksi sebesar 17% di – bandingkan 2017, yaitu turun dari US$714,3 men ja di US$595,5/ton. Harga ini disebut-sebut analis in ter na – sional sebagai yang terendah dalam 12 tahun terakhir. Kendati demikian, sawit tetap saja mampu meng – ha silkan devisa sangat besar, yaitu US$20,54 miliar (setara Rp291 triliun) atau turun 11% dari perolehan 2017 yang berjumlah US$22,97 miliar. Devisa tersebut berasal dari volume ekspor yang naik 8% dari 32,18 juta ton menjadi 34,71 juta ton.

Menurut Joko Supriyono, Ketua Umum GAPKI, dalam ajang “AGRINA Agribusiness Outlook 2019” di Hotel Santika, Taman Mini, Jakarta, 11 April 2019, “Ka lau bicara surplus, ya ini industri yang paling besar surplusnya.” Joko menjabar – kan, produksi kita naik secara signifi – kan selama dua tahun terakhir lanta – ran kondisi iklim yang bersahabat. Penambahan produksi Indonesia bia sanya sekitar 2 juta ton/tahun, tapi tahun lalu hampir 5 juta ton se – hingga berkontribusi terhadap kele – bihan suplai dunia.

Angka produksi 2018 mencapai 47 juta ton yang men cakup minyak sawit mentah (crude palm oil – CPO) dan minyak inti sawit (palm kernel oil-PKO). Dari 47 juta ton tersebut, pasar do – mestik menyerap hampir 13,5 juta ton yang meliputi pangan, oleko mi – kal, dan biodiesel. “Tahun lalu penye – rapan untuk biodiesel meningkat 72% dari 2,2 juta ton menjadi 3,8 juta ton dengan program mandatori B20,” ulas Wakil Direktur Utama PT Astra Agro Lestari Tbk. tersebut. Dengan me nyerap 13,5 juta ton itu, Indonesia tak hanya menyandang produ sen dan pengekspor terbesar di dunia, tetapi juga konsumen nomor wahid. Skenario lima tahun ke depan, lanjut Joko, memang tergantung banyak hal. Namun, GAPKI memperkirakan produksi Indo ne sia masih akan terus mening kat meskipun kenaikannya tidak sebesar satu dekade terakhir.

Proteksionisme Menguat

Sebagai komoditas ekspor andalan, di pasar glo – bal sawit banyak menghadapi tantangan. Dari pa – sar global, Joko menyebut, adanya kampanye antisawit dan proteksionisme di beberapa negara, serta harga yang fluktuasi. Sebagai contoh, kampanye antisawit selalu terdengar di Uni Eropa. Benua Biru itu berencana menghapuskan minyak sawit sebagai sumber bahan baku nabati pada 2030.

Alasan – nya, sawit termasuk bahan yang tidak berkelanjut – an. Prosesnya memang tengah berlanjut di parlemen dan bisa diadukan ke World Trade Organiza – tion (WTO). “Pemerintah sekarang ini memberi dukungan yang cukup baik pada sawit, mulai dari presiden, wapres, menteri semua, memperjuangkan sawit. Bahkan salah satu tugas menlu adalah diplomasi sawit. Tim pemerintah hari ini juga sedang di Brussel untuk melobi parlemen Eropa. Tim lain me – nyebar di berbagai tempat untuk memperjuang – kan hal yang sama. Jadi dukungan ini cukup kita apresiasi,” ulas alumnus Faperta UGM tersebut. Sementara itu dalam ajang seminar yang sama, Bhima Yudhistira Adhinegara, ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) mengingatkan kemungkinan pelambatan ekonomi global tahun ini.

“Mau bicara sawit, apalagi bicara karet, kopi bahkan kalau kita lihat harga komoditas, karena terjadi perlambatan ekonomi global, itu relatif rendah atau mengalami penurunan. Kita sedang menunggu ending scenario dari (kemelut, Red.) Venezuela. Apa hubungannya Venezuela sama komoditas pertanian? Hubungannya tidak langsung tapi komoditas yang berpengaruh terhadap hampir seluruh komoditas lainnya adalah minyak,” ulas Bhima. Alumnus Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM tersebut juga meminta pelaku usaha sawit harus mewaspadai perang dagang tidak formal. Misalnya Uni Eropa yang menghambat masuknya minyak sawit Indonesia ke wilayah mereka dengan berbagai alasan. India menaikkan bea masuk produk sawit dari Indonesia guna melindungi petani minyak nabati di dalam negeri mereka.