Indonesia Surplus Jagung Bagian 2

Pertanaman 2019

Produksi jagung 2018, lanjut Bambang, terkendala telatnya kehadiran hujan yang mempengaruhi keterlambatan penanam – an di beberapa daerah. Musim tanam tahun lalu pun bergeser sekitar sebulan lebih lambat. “Biasanya Oktober sudah mulai tanam. Ini akhir November baru mulai tanam,” katanya. Untuk mengantisipasi kendala musim, Kementan mendorong program perce – pat an tanam jagung mulai Januari hingga Mei guna mengejar target produksi 2019 sebesar 33 juta ton. Namun mengacu peng amatan Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG), Bambang menuturkan, tahun ini tidak ada kendala berarti dalam produksi jagung. Pertanaman jagung bisa dilakukan sepanjang tahun karena BMKG memprediksi hujan tidak intensif dan curah hujan merata sepanjang tahun. “Ini favorable (bagus) untuk penanaman jagung. Lahan kering yang biasanya sekali bisa dua kali tanam. Tahun ini potensi produksinya bagus,” ungkapnya.

Terlebih, hampir tidak ada hama dan penyakit yang mengganggu pertanaman jagung, kecuali bulai. “Bulai itu terjadi kalau hujan deras, hujannya terlalu in – tensif, lembap, tumbuh jamur. Kalau (saat) ini bulai malah bisa terkendali,” terang Bambang. Di sisi lain, produsen benih jagung juga sudah menyiapkan benih jagung toleran bulai bersinergi dengan produk perlindungan tanam. Upaya Produksi Tahun ini Kementan masih mengandal – kan pola tumpang sari seluas 700 ribu ha untuk mengangkat produksi emas pi – pilan. Luasannya 350 ribu ha tumpang sari jagung-kedelai dan 350 ribu ha tumpang sari padi-jagung. Ditambah pertanaman monokultur sebanyak 1,5 juta ha, pro – gram bantuan benih jagung 2019 mencapai 44 juta kg benih dengan asumsi kebutuhan benih sebanyak 20 kg/ha. Sistem tumpang sari menghasilkan beberapa keuntungan. Di antaranya, jarak tanam rapat dan populasi tinggi, luas tanam dan produksi meningkat, meng – urangi persaingan lahan antarkomoditas, efisiensi usaha tani meningkat, dan me – ning katkan pendapatan usaha tani.

Pertanaman jagung dibuat pola tanam rapat dengan populasi sekitar 1,5 kali pertanaman yang biasa dilakukan setiap petani di daerah. Jika petani biasanya menanam sebanyak 60 ribu batang per ha, akan ditingkatkan sampai 100 ribu ta – naman/ha. Jarak tanam yang umum digu – nakan itu adalah 60 x 80 cm atau 40 x 60 cm juga akan berubah menjadi jarak tanam rapat 40 cm x 15 cm. Arnen menjabarkan, pemerintah pusat menyediakan anggaran bantuan benih untuk tumpang sari, sedangkan perta – naman monokultur menggunakan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) pro – vinsi. “Bantuan benih disuplai semua pro – dusen benih yang memenuhi syarat. Yang kita minta tahan bulai, produktivitas minimal 10 ton/ha. Tapi kalau petani mengusulkan varietas lain dan ada di ekatalog, memungkinkan pengadaan,” ulas Arnen sambil menyebut ketersediaan benih untuk bantuan mencukupi bahkan berlebih. Bambang meminta petani segera mengirimkan proposal pengajuan bantuan benih jagung 2019 yang dibuka sejak November 2018 hingga Juni 2019. Sebab, saat ini baru sedikit proposal yangmasuk. Ia menambahkan, pemberian bantuan sistem tumpang sari cukup selektif karena ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi petani. Yaitu, Calon Petani Calon Lokasi (CPCL) harus ada Surat Keputusan (SK) Kabupaten dan surat pernyataan kebenaran dan keabsahan CPCL yang dikeluarkan kepala dinas. Sementara itu, kelompok tani yang mengajukan bantuan setidaknya memiliki 25-100 ha lahan. Setiap kabupaten juga setidaknya memiliki 1.000 ha lahan dari beberapa kelompok tani pemohon bantuan.