Indonesia Surplus Jagung

Produksi jagung pada 2018, menurut Sumarjo Gatot Irianto, Dirjen Ta – naman Pangan, Kementerian Per ta – nian (Kementan), mengalami surplus se – be sar 14 juta ton. Produksi “emas pipilan” mencapai 30,05 juta ton pipilan kering, sedangkan kebutuhannya sekitar 15,58 juta ton. Dari mana surplus ini diperoleh?

Mencapai Surplus

Keberhasilan itu, ungkap Gatot, berkat pelaksanaan Upaya Khusus Padi, Jagung, dan Kedelai sejak 2015. Bambang Su – giharto, Direktur Budidaya Serealia, Ditjen Tanaman Pangan, Kementan menjelas – kan, pendorong utama surplus adalah bantuan benih jagung setara 2,8 juta ha melalui program Perluasan Areal Tanam Baru (PATB). Namun, realisasi PATB 2018 mencapai 2,5 juta ha dan sisanya berupa Penambahan Luas Tanam Jagung (PLTJ). “Anggaplah PATB ini petani pemula yang belum mahir, se – tidaknya bisa menghasilkan 5 ton/ha. Dari 2,5 juta ha PATB, menghasilkan 12,5 juta ton ja – gung. Surplus diduga dari itu ditambah surplus produksi lainnya,” urai Bambang pada AGRINA di Jakarta, Senin (21/1).

Kementan, imbuh Arnen Sri Gemala, Kasi Intensifikasi Ja – gung, Direktorat Budidaya Se – relia, mengandalkan PATB un tuk menggenjot produksi emas pi – pilan pada 2018. Pasalnya, ba – nyak lahan telantar yang belum sempat digunakan dan ada la – han kering yang belum dipakai sa ma sekali. Program PATB men jang kau 31 provinsi di seluruh Indonesia. Seiring berja – lannya waktu, banyak daerah berasumsi PATB harus membuka lahan baru. Padahal, PATB bisa memanfaatkan lahan yang tidak pernah terpakai di lingkungan sekitar, lahan terbuka seperti Hak Guna Usaha (HGU) yang belum dipakai, atau lahan yang tidak biasa ditanami jagung, misalnya lahan dengan jaringan irigasi rusak. “Lahan PATB itu termasuk tumpang sari dengan tanaman perkebunan, seperti sawit, karet,” terang Arnen. Dari 2,5 juta ha PATB, ada sekitar 30% berupa tumpang sari jagung di lahan perkebunan dan Perhutani. Salah satu daerah yang sukses mengem – bangkan PATB adalah Sulawesi Uta ra mela – lui tumpang sari jagung de ngan kelapa. Pendorong berikutnya adalah iklim investasi atau budidaya jagung yang sangat bagus dalam tiga tahun terakhir karena penghentian impor. Pabrik pakan pun berlomba-lomba menyerap jagung lokal. “Harganya selalu bagus sehingga orang beramai-ramai tanam jagung. Itu yang membuat perluasan tanam me – ningkat, produktivitas meningkat,” timpal Bambang.