Menggenjot Produksi Jagung ala Kementan

Menggenjot Produksi Jagung ala Kementan  – Kementerian Pertanian (Kementan) menaruh target produksi jagung sebesar 33,13 juta ton pada 2019 mendatang. Target ini me – ningkat 40,5% dibandingkan capaian produksi pa – da 2016. Faktanya di lapangan. Budidaya jagung di Indonesia masih menemui kendala sampai dengan saat ini. Kebanyakan, lemahnya budidaya “emas pipilan” ini berasal dari sisi mutu dan kualitas. Kasi Intensi – fi kasi Jagung, Subdit Jasela, Direktorat Serelia, Dit – jen Tanaman Pangan, Ke mentan, Arnen Sri Gemala menyampai – kan, hasil produksi ja – gung masih belum berdaya saing. “Kualitas produksi be – lum stabil, proses pro – duksi masih tradisional, permodalan terbatas hingga tenaga dan in – frastruktur belum me – madai,” rinci dia dalam AGRINA Agribusiness Out look di Jakarta, Ka – mis (11/4). Dari sisi pasar, permintaan di dalam ne – geri masih sangat ting – gi, tetapi tingkat produksi masih belum men cu kupi. Potensi produksi bisa diselesaikan dengan memanfaatkan lahan luas yang tersedia di dalam negeri. Namun, imbuh Arnen, ancaman terbesar yang dihadapi adalah harga jagung impor yang lebih murah. Dalam mendorong produktivitas dan swasem – bada jagung, perlu adanya pengoptimalan sumber daya manusia, manajemen stok, serta tata niaga jagung yang kondusif. “Ini merupakan alternatif yang perlu dilakukan secepatnya. Upaya inilah yang dilakukan Kementan,” jelasnya bersemangat.

Memperluas Wilayah Tanam

Untuk meningkatkan produksi jagung, Kementan menempuh kebijakan produksi di lahan existing. Di samping itu, perluasan areal tanam baru (PATB) juga dilakukan dan pemanfaatan alat mesin pertanian dari hulu hingga hilir. “Pada 2018 Ditjen Tanaman Pangan memberikan bantuan benih sebesar 2,8 juta ha. Pada 2019 sekitar 2,2 juta ha beserta alat pasca – panen,” ungkapnya. Kementan tidak bisa berjalan sendiri dalam upaya meningkatkan produksi jagung. Di samping mendukung kemitraan dan kebijakan fiskal, perlu adanya dukungan dari pemda setempat dalam membuka areal tanam baru. Peran BUMN lainnya, khususnya Bulog, juga dibutuhkan untuk menyerap jagung petani. Puncak panen jagung terjadi pada Februari dan April. Kemudian Juni dan September masuk panen berikutnya. Kelebihan hasil panen Februari dan April seharusnya dapat ditampung sebagai stok penyangga. “Puncak produksi Februari-Maret mencapai 36% dari produksi setahun,” jelas Armen. Sebanyak 90% produksi jagung nasional dihasilkan dari 11 provinsi sentra di Indonesia. Kementan meyakini, secara umum, produksi dalam negeri dapat memenuhi kebutuhan nasional.

Tidak tercatat BPS

Terkait masalah data, Arnen menjelaskan, data yang dikeluarkan Kementan kerap tidak sejalan dengan Badan Pusat Statistik (BPS). Banyak yang mengatakan, data Kementan tidak akurat antara produksi dengan fakta stok yang ada di lapangan. “Kementan memiliki lahan jagung di Perhutani, tapi tidak tercatat oleh BPS. Padahal bantuan yang diberikan Kementan pada 2018 ada di lahan baru tersebut,” jawab Arnen. Lahan baru yang tidak tercatat BPS, sangkal Arnen, karena tidak termaksud lahan baku. Informasi tersebut didapat dari Pemda yang wilayahnya menerima bantuan. Yang menarik, lanjutnya, jagung juga ditanam di kuburan, seperti di Yogyakarta dan Sulawesi Selatan. Hal ini terjadi lantaran tidak ada lagi lahan baru namun bantuan sudah kadung diterima. Lahan lainnya yang dimanfaatkan untuk menanam jagung adalah lahan sawit dengan metode tumpang sari.