Smartphone Asus Terbaru yang Cocok untuk Main Game Bola Offline

Smartphone Asus Terbaru yang Cocok untuk Main Game Bola OfflineHari-hari sibuk, berkela- na dari satu negara ke negara lain. Jerry Shen, CEO ASUSTek Computer Inc. terus mengumbar senyum. Selasa, 15 April ia adalah satu dari dua orang paling dicari paling tidak di dunia gadget di Asia Tenggara. Sebelumnya, ia bikin gebrakan di Taipei (Taiwan), lantas berlanjut menggoyang Beijing (Tiongkok). “Hari ini Jakarta. Saya senang menjadi bagian dari event ini di sini,” ujarnya menyambut SINYAL. Apa yang disebut event oleh sosok pria tinggi berkacamata ini adalah pergelaran rilis empat produk tergres. Antara lain tiga seri Asus Zenfone 4, 5 dan 6, serta satu tablet hybrid, Padfone Mini berukuran layar 7 inci. Berlangsung sepanjang pagi hingga malam, mengundang lebih dari 1.000 orang dari kalangan jurnalis Asia Tenggara, blogger lokal, juga retail rekanan. Seolah begitu banyak hal ingin ia lontarkan kepada kami, tentang gagasan, tentang mimpi, juga sejumlah pengamatan perilaku konsumen. “Oh ya, kami sukses menjadi produsen notebook ketiga terbesar di dunia tahun lalu,” kabarnya. Pencapaian selama lebih dari 25 tahun yang membanggakan di tengah terpuruknya permintaan pasar akan perangkat komputer jinjing. Keberhasilan yang ia lewati memberi inspirasi besar untuk melanjutkan perjalanan.

“Kami telah punya pengalaman dan kini saatnya untuk memproduksi smartphone highend atau premium,” ujar pria yang merupakan sosok visionaris ASUS. Kata Jerry, 10 tahun lalu, ASUS sudah mengintroduksi dengan pembuatan smartphone, yang ia anggap sebagai pengalaman yang bermanfaat. Keputusan ASUS untuk memfokuskan bisnis kepada industri smartphone ia lihat sebagai langkah paling pas tahun ini. “Kita lihat ada tiga perangkat (notebook, tablet, smartphone) yang bermain di satu pasar,” katanya. Benar, pasar di seluruh dunia secara umum tak bisa lagi dibuat segmentasi. Artinya, tak ada lagi persinggungan atau pemisahan segmen. Semua produsen apapun itu (manufaktur ponsel atau produsen komputer) sebenarnya bermain di satu entitas pasar global. Dari tiga perangkat itu, ponsel paling kencang laju tumbuhnya.

Maka, Jerry bersama tim kemudian melakukan persiapan. Konsep baru dikemukakan. Fokusnya lalu pada penciptaan ponsel premium. Tidak mudah memutuskan hal ini. “Ada iPhone, Samsung, yang masuk kelompok premium,” sebutnya. Konteks premium, bagi Jerry haruslah dilihat dari beberapa perspek tif. “Harus memiliki akurasi yang baik, juga musti ‘indah’,” tandasnya. Maka lihatlah Zenfone yang harus melalui proses teknologi pemotongan memakai laser dengan tingkat presisi sampai 0,13 mm. Prosedur ini harus dilakukan sebanyak tujuh kali hingga menghasilkan kilauan metalik yang sempurna di bodi bawah layar. Pengertian “beautiful” diterjemahkan dalam paduan lain berupa pewarnaan.

Sehingga antara teknologi material dan style menyatu. Tapi kemasan tak berhenti di situ, masih ada lagi teknologi software yang berpadu dengan hardware, misalnya bagaimana aksesori  ip cover bisa terintegrasi dengan layar menciptakan kesamaan coloring. Faktor lain yang ia tegaskan adalah user experiences. Maknanya adalah bagaimana membawa berbagai  tur agar lebih menyatu dengan pengguna. Ia sebut user interface (UI) ZenUI yang disiapkan khusus lagi-lagi mengoptimalkan beberapa unsur. Ada kemudahan pengaturan, tampilan kontemporer, serta multiinformasi seperti info cuaca, wallpaper streaming yang seolah memahami waktu, dan lain sebagainya. “Fitur yang dihadirkan oleh Zenfone harus simple, peaceful dan beautiful,” sergahnya.

Di sini, ia sebut bahwa gairah lah yang memicu tim untuk menghasilkan hal-hal luar biasa. “Ide luar biasa, pengalaman luar biasa, dan hal-hal luar biasa apapun untuk menciptakan produk luar biasa,” terusnya. Soal pengalaman pengguna, Jerry menitikkan satu poin penting. “Empat puluh persen pengguna memakai kamera,” ucapnya. Angka hasil pengamatan ASUS ini lalu diterjemahkan oleh tim Digital Imaging (DIT) ASUS untuk menciptakan sub  tur demi memperkaya  tur mobilephoto. Dari sembilan opsi, sub tur pemotretan low light adalah terobosan. SINYAL menguji dengan mengkomparasi hasil foto dengan smartphone lain di kondisi gelap ekstrim. Dengan bekal ini saja, bagi Jerry tampaknya belum cukup berkompetisi dengan smartphone kelas premium lainnya. Bagi pabrikan lain, premium harus terbayar dengan harga yang “premium” pula. “iPhone harganya premium, begitu pula Samsung,” tandasnya.

Bagi Jerry? “Kita harus move! Dari (harga, RED) premium ke terjangkau,” tegasnya. ASUS punya hitungan sendiri, namun siapa yang terbelalak melihat angka Rp1,1 juta untuk smartphone layar 4 inci dengan kamera 5 MP, banderol Rp2,1 juta buat tebus ponsel pintar layar 5 inci plus kamera 8 MP, serta cukup keluar kocek Rp3,1 juta menukar dengan ponsel premium layar 6 inci berkamera 13 MP. Semuanya didukung oleh rekanan kawak ASUS, Intel yang membawa prosesor terbaik, termasuk Atom Multicore Z2580 berkecepatan komputasi 2 GHz. Sulit dibayangkan hitung-hitungan yang melahirkan angka rupiah ini. Tapi faktanya terjadi dan ada. Akan kah, si pengagas notebook terjangkau fenomenal, EeePC ini mengulang sukses di industri smartphone? Sayang, tempo tak berpihak kepada SINYAL. Jerry tersenyum dan meminta maaf atas keterbatasan sang waktu. Keramahan raut wajah dan senyumnya yang terus menyungging selama pertemuan itu, sepertinya sembunyikan ambisi ASUS yang baru